Untuk kesekian kalinya pengamat ekonomi menganggap pertumbuhan ekonomi era SBY lebih baik dari era JOKOWI

Untuk kesekian dan sekali lagi, seorang ahli ekonomi mengkritik Jokowi dengan menggunakan perbandingan. Saat 2004 hingga 2010 pertumbuhan ekonomi rezim SBY dianggapnya lebih baik dibanding era Jokowi.

Ganesa Indonesia
Data diambil dari Era Sby dan Era Jokowi Periode Pertama

Surabaya Jawa Timur Ketua Umum Gerakan Nasional Indonesia Bersatu dan juga Ketua Koordinator Nasional Relawan Ganjar Untuk Indonesia Satu ( GANESA) menanggapi pernyataan Pengamat Ekonomi dari  PEPS.

Sejumlah pihak membandingkan perekonomian Indonesia era Presiden Joko Widodo dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat periode SBY, pertumbuhan ekonomi memang lebih tinggi dari saat ini. Namun hal tersebut dinilai karena berkah meningkatnya harga komoditas global.

Era pemerintahan SBY banyak diuntungkan oleh kondisi ekonomi global yang moncer dan melambungnya harga komoditas dunia. Saat periode itu, daya beli masyarakat cukup bagus.Jadi harus dilihat dari berbagai segi jangan fokus hanya kepada angka saja .

“Ternyata, pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun untuk periode 2014-2019 lebih rendah dari periode 2004-2014, yaitu 5 persen versus 5,7 persen.”

Itu kata Anthony Budiawan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS).

Mantan Direktur emiten kapal PT Berlian Laju Tanker Tbk, Anthony Budiawan yang turut menjadi tim ekonomi Calon Presiden Prabowo—Sandiaga pada pilpres 2019, belakangan ini memang aktif mengkritisi banyak kebijakan Jokowi.

Perbandimgan Pertumbuhan Ekonomi Era SBY DAN JOKOWI

Dia juga berungkap terkait alasan ketiga dalam tulisannya. “Bahwa utang pemerintah digunakan untuk belanja produktif, maka tidak masalah, juga merupakan alasan yang mengada-ada, terkesan bodoh, atau membodohi publik,” demikian dia menulis.

Sekilas, apa yang disampaikannya tak ada yang salah. Angka itu benar adanya. Tak ada yang akan komplain lebih besar yang mana antara 5 persen milik Jokowi dibanding 5,7 persen milik SBY pada sisi pertumbuhan ekonomi.

Namun, tanpa menggunakan data banding lebih lengkap, itu jelas seperti memiliki maksud tak baik. Itu lebih terlihat ingin mencari sensasi dibanding pantas seorang ahli berbicara demi sebuah kritik misalnya.

Pertumbuhan ekonomi era SBY yang dia catat sebesar 5,7 persen itu dia capture agar 5 persen milik Jokowi terlihat tak lebih baik.

Benarkah angka itu mencerminkan makna apa adanya?

Seandainya Anthony mau menyisipkan satu angka milik China yakni 13,7 persen pertumbuhan ekonomi negara itu di tahun 2007 sebagai cermin periode tahun yang dia sebutkan yakni 2004-2014, tentu itu akan memberi perspektif yang lain.

Itu dapat segera kita bandingkan dengan periode 2014 – 2019 dimana pertumbuhan Indonesia yang hanya 5 persen namun di sisi lain China pun ternyata hanya mampu meraih pertumbuhan di bawah dibawah 8 persen saja.

Secara sederhana, saat China rontok dari lebih 13 persen menjadi hanya 7 persen, kita tak terjerumus turut. Artinya, secara fundamental apa yang telah kita lakukan tak ada yang salah. Trend dunia saat itu memang turun namun kita justru dapat bertahan.

Dan itu makin jelas saat pandemi 2020 dimana saat hampir semua negara rontok dan lalu bertumbuh negatif, meski hanya 2,9 persen, ekonomi kita tumbuh secara positif pada Kuartal I 2020. Itu tak mungkin terjadi bila fundamental ekonomi kita buruk.

Hari ini, saat krisis makin menjadi, saat dunia makin berteriak sulit akibat perang Ukraina dan lockdown China, Indonesia masih dilihat sebagai tolok ukur baik atas kinerjanya.

Hanya ada India yg dianggap akan tumbuh hingga 7 atau 8 persen sebagai yang tertinggi. Dan namun Indonesia diramal akan tetap tumbuh hingga 5,6 persen. Itu adlh posisi terbaik nomor 5 dunia dimana China justru hanya akan tumbuh sebesar 4,7 persen saja di bawah posisi Indonesia.

“Hutang negara hingga lebih dari 7.000 triliun ga dihitung apa? Rezim yang lalu ga segila itu ambil hutangnya tahu..😡!!??”

Mengacu pada data yang dirilis Bank Indonesia pada triwulan III 2014 atau menjelang berakhirnya periode kedua Presiden SBY, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar 292 miliar dollar AS.

Rinciannya, utang pemerintah dan BI sebesar 132 miliar dollar AS dan utang dari sektor swasta termasuk BUMN sebesar 159,3 miliar dollar AS.

Dengan utang sebesar itu, masih menurut BI, rasio utang terhadap PDB yakni 34,68 persen

Sementara, data berkata bahwa utang Indonesia pada akhir tahun 2004 adalah 68.57 miliar dollar. Dan ketika pada akhir pemerintahan pak Beye hutang telah menjadi 292 miliar dollar, itu adalah jumlah fantastis.Ada kenaikan lebih dari 425%..

Bila selama 7 tahun Jokowi memerintah, hutang Indonesia telah meningkat menjadi 409 miliar dollar, artinya Jokowi pun benar telah menambah hutang.Berapa besar penambahannya?Besarannya adalah 142%. Itu jauh lebih kecil dibanding 425% pada rezim yang lalu kan?

Ini belum kita bicara tentang berapa penambahan hutang ketika harus dibandingkan dengan berapa banyak waduk dibuat, jalan dibentangkan, bandara digelar dan lain-lain dan lain-lain. Ini nanti akan terlihat seolah menjadi sindiran tak netral yang tak perlu.

 

Di sana data berkata bahwa total kekayaan Indonesia pada akhir 2014 mencapai Rp1.949 triliun dan namun pada akhir tahun 2021, aset itu telah mencapai Rp11.454 triliun.

Ya, bila hutang tambahan itu harus disandingkan dengan tambah kaya negara kita, penambahan utang itu seperti tak ada artinya kan?

Ini sekaligus menjawab Alasan ketiganya, bahwa utang pemerintah digunakan untuk belanja produktif dan merupakan alasan yang mengada-ada, terkesan bodoh, atau membodohi publik, terjawab sudah.

Aset negara yang meningkat menjadi lebih dari 11 ribu triliun jelas adalah produktif dan maka tak membodohi rakyat seperti tuduhannya.

“Bagaimana dengan melemahnya rupiah yang juga dia tuduhkan?”

Data berkata bahwa pada 2004 kurs kita terhadap dollar AS adalah 9.100 dan namun pada akhir 2014 telah menjadi 12.200. Itu berarti bahwa rupiah telah mengalami penurunan nilai sebesar lebih dari 35% dalam waktu 10 tahun.

Pada saat ini, kurs mata uang AS itu berada pada posisi 14.800 rupiah per dollar. Artinya sejak 2014 juga ada penurunan nilai tukar, namun hanya sekitar 22 % saja.

Jadi, cukup jelas kiranya bahwa apa yg dia khawatirkan pada faktanya bkn seperti apa yg ingin dia ungkapkan.

“Apakah itu semua memiliki makna pada tataran nyata? Rakyat terbukti makin makmur misalnya?”

Ketika narasi bahwa zaman Jokowi makin susah justru mengemuka, ada baiknya kita melihat apa itu terminologi susah.

Biasanya, orang yang susah hidupnya adalah mereka yang tak mampu beli beras. Setuju dong ?.

Adakah harga beras terlalu mahal pada jaman Jokowi sehingga banyak orang kelaparan?

Harga beras hari ini adalah antara 9.000 hingga 11.000 rupiah. Delapan tahun yang lalu saat awal Jokowi menjabat Presiden, harga beras juga setara dengan itu. Artinya bila ada kenaikan, itu sangat kecil.

kan dengan era sebelumnya. Pada 2004 harga beras berada pada kisaran 3.000 rupiah per kilogram & dalam 10 tahun atau pada 2014 telah naik menjadi 10.000 rupiah. Ini berarti naik 330% ?Bandingkan

Sekarang kita bicara harga BBM di era SBY dan sekarang .

Pada 2004 harga BBM premium adalah 1.800 rupiah per liter dan pada akhir pemerintahan beliau pada 2014, harga itu telah menjadi 6.000 rupiah per liter. Ada kenaikan hingga 330% bukan?

Artinya penghasilan rakyat selama 7 tahun Jokowi menjadi Presiden, naik 105%. Dan ketika disandingkan dengan harga beras, daging hingga BBM pada nilai kenaikan rata-ratanya, ternyata tak sampai pada angka 15%.

Pada SBY, UMR DKI tahun 2004 sebesar 671.550 dan 10 tahun kemudian naik menjadi 2.2 juta rupiah per bulan. Selama 10 tahun, di sana ada kenaikan sebesar 330%.

Namun, di sisi lain, harga beras, daging hingga BBM ternyata juga naik dengan presentasi rata-rata lebih dari 300%.

Berbeda saat Jokowi menjadi Presiden, dengan kenaikan pendapatan sebesar 105 persen namun harga rata-rata barang hanya naik sekitar 15%, rakyat memang menjadi lebih kaya.

Ternyata, pertumbuhan ekonomi rata-rata per tahun untuk periode 2014-2019 yang lebih rendah dibanding periode 2004-2014 yakni 5 persen versus 5,7 persen seperti kata Anthony Budiawan, memang tak bicara seperti caranya membidik angka.

Angka pertumbuhan ekonomi lebih rendah milik Jokowi yang ingin di capture itu ternyata tak bermakna apa-apa selain memang HANYA demi terlihat lebih rendah namun faktanya tak selalu berarti lebih buruk. Bahwa itu ternyata LEBIH BAIK, itu fakta yang bicara bukan reka-reka.
Dan saat ini Pertumbuhan Ekonomi Indonesia jauh lebih baik melebihi Amerika 2.2%  dan China kita patut bangga hanya di Era Pak Jokowi ini Indonesia Bisa Kalahkan Negara Super kaya China dan Amerika .

Ditulis Oleh : Niniek Henny DES SE,.W.M

Sumber  : Berbagai Media dan Tweet Leonita Lestari .

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button